Tausiyah Khutbatul Wada Ma'had Kafila

Ust. Sudarisman Ahmad menasehatkan beberapa poin dalam khutbah wada' pada Rabu (9/10) malam di hadapan para santri dan sebagian orang tua/wali sebagai pembekalan para santri selama menjalani liburan Idul Fithri di rumah.
Liburan adalah bukanlah akhir dari proses belajar namun justru sebuah awal dalam suasana belajar, dari suasana belajar di ma'had kemudian belajar secara langsung di masyarakat, menerapkan apa yang telah didapatnya di ma'had agar bermanfaat pula bagi orang lain.

Liburan bukanlah waktu untuk bersantai-santai, istirahat total dari belajar sabagaimana jawaban Imam Syafi'i saat ditanya, "Kapan kita beristirahat?” Beliau menjawab, "Kita beristirahat saat kaki kita menapak di tanah syurga.”
Sebagai seorang pelajar sejati, prinsip selama nyawa ada dalam raga maka tidak ada kata berhenti berbuat dan belajar harus tetap dipegang.
Para santri Ma'had Kafila adalah duta atau wakil atau utusan dari daerah masing-masing yang artinya menutup kemungkinan bagi para pelajar lain untuk dapat menikmati pembelajaran di Ma'had Kafila. Maka dari para siswa harus mempertanggungjawabkan amanah. Setiap siswa diberi amanah dalam lingkup satu kota/kabupaten yang diwakilinya.
Maka dari itu Ma;had Kafila menasehatkan tiga point :
1. Sampaikan salam kami, keluarga besar Ma'had Kafila untuk orang tua, keluarga besar siswa dan orang/tokoh masyarakat di lingkungan sekitar dan mohonkan doa bagi keistiqomahan pengurus, para asatidzah dan para santri. Jadikan juga salam kepada tokoh di lingkungan sekitar juga sebagai tali penghubung secara tidak langsung antara Ma'had Kafila dengan daerah asal santri.
2. Berbakti kepada orang tua.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa sengsara orang-orang yang masih berkesampatan bertemu dengan kedua orang tuanya namun hal ini tidak menyebabkan dia masuk ke surga.
Liburan adalah kesempatan berbakti kepada orang tua secara langsung setelah beberapa bulan tidak berkesempatan untuk mengabdi kepada mereka.
Janganlah berkata 'ah' kepada orang tua sebagai salah satu wujud kepatuhan kepada mereka sebagaimana yang Allah nasehatkan dalam Al Qur'an.
Jadikan liburan ini sebagai waktu untuk melayani orang tua meskipun dari hal-hal yang kecil. Contoh membantu pada hal-hal yang kecil namun sangat berarti adalah melayani kebutuhan seperti : mencuci piring, mencuci baju sendiri menata tempat tidur sendiri dan ditambah membantu orang tua sesuai dengan kemampuan seperti membantu momong adik, menjaga warung, menyapu halaman.
Dan alangkah baiknya juga jika kita melayani kebutuhan orang tua seperti menyediakan minum, dan sebagaimana.
3. Bergaulah dan berinteraksilah dengan masyarakat.
Kebiasaan anak pesantren jika pulang ke rumah adalah hangat bersama keluarga hingga tidak menyempatkan untuk bersilaturahmi ke tetangga, teman atau masyarakat sekitar.
Masjid/mushola adalah tempat yang harus dikunjungi pertama kali sebagaimana Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam yang dilakukan ketika pertama kali di Madinah adalah membangun masjid, karena masjid adalah pusat/sentra denyut kehdupan masyarakat.
Jangan pernah menjadi tamu di kampung sendiri, asing dengan tetangga, asing dengan masyarakat karena tidak mengenal dan canggung terhadap lingkungan adalah mushibah awal sebagai santri dan da'i.


SELAMAT MEMPERSEMBAHKAN BAKTI DIRI KEPADA ORANG TUA DAN MASYARAKAT YANG TELAH MENANTI NASEHAT-NASEHAT DARI PARA DUTA

'Sariawan' Hati

Pernahkan anda makan kepiting?
Penuh perjuangan untuk dapat menikmati seupil 'daging' kepiting setelah sebelumnya harus sabar untuk mengobrak-abrik cangkangnya. Belum lagi harga kepiting yang cukup mahal, namun itulah arti dari kenikmatan : Sebanding dengan pengorbanan yang dikeluarkan.

Atau pada saat hampir berbuka puasa, dihidangkan di depan kita es buah, atau es campur atau es-es yang lainnya. Maka ketika tegukan pertama mampir di tenggorokan, segaarr luar biasa. kenapa? karena sebelumnya kita telah berjuang untuk melawan rasa dahaga. itulah arti kenikmatan.

Namun selain hukum kenikmatan di atas ; sebanding dengan pengorbanan yang dikeluarkan, ada satu faktor lain yang tak kalah penting : indera perasa kita, bibir dan lidah yang sehat. COba dihadapan kita terhidang makanan yang paliiiing kita sukai, namun bibir kita berhiaskan sariawan, tiga, ya tiga saja tak usah banyak-banyak. Apa yang kita rasakan? Menangis kita dalam menikmati makanan tersebut. Mau tapi ... sakit.

Hukum ini tak hanya berlaku pada indera perasa kita, namun juga indera keenam kita, hati. Jika hati kita sedang ditumbuhi 'sariawan', hidangan yang paling nikmat pun seperti dzikir, shalat, membaca Al Qur'an tetap tidak nikmat. Rasanya ingin cepet-cepat selesai. Kalau baca Qur'an seperti orang mengejar maling, semua aturan tajwid ditabrak-tabrak, tidak dihayati hurup per hurup, atau justru seperti orang kampung, fatihah dibaca dalam satu nafas.

Jika kita-kita merasakan gejala-gejala tersebut, berhati-hatilah, karena 'sariawan' hati itu lebih condong kepada sifat orang-orang munafik, sebagaimana firman Allah, Fi Qulubihm marodl, di dalam hatinya ada penyakit, sehingga males untuk mengingat Allah, dzikir pada Allah kecuali, sa-uprit, Illaa qalilaa. Terlebih jika kita paling males shalat Shubuh dan 'Isya.

'Sariawan' hati ini disebabkan oleh sebuah bakteri yang namannya maksiatus alias maksiat kepada Allah. Sebetulnya berbuat salah itu manusiawi, namun bagaimana agar kesalahan tersebut tidak menjadi bakteri yang membuat sariawan hati. Apa resepnya?
Rasulullah memberikan pola, ikutilah perbuatan burukmu dengan kebajikan, niscaya itu akan menghapus keburukanmu.

Pribadi Rasulullah yang Mengagumkan

"Dan mereka berkata : Mengapa Al Qur'an tidak diturunkan kepada para pembesar dari dua kota?" (QS. Az-Zukhruf:31)

Itulah pertanyaan orang-orang kafir Makkah yang mempertanyakan keputusan Allah yang justru menurunkan Al QUr'an kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam. Yang dimaksud pembesar dari dua kota adalah pembesar-pembesar dari Makkah dan Thaif, yaitu : Al-Walid bin Al-Mughirah and `Urwah bin Mas`ud Ath-Tsaqafi, atau menurut pandangan Ibn Abbas RA adalah Ikrimah, Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi, Qatadah, As-Suddi and Ibn Zayd . Gugatan dan keraguan mereka langsung dijawab Allah dalam QS. Al An'am : 124, sesungguhnya Allah lebih mengetahui Al Qur'an ini kepada siapa diberikan.

Tetangga yang menjadi teladan
Beliau adalah seorang teladan bagi tetangga sebagaiman dikatakan Anas Ibn Malik :
"Selama sepuluh tahun aku tinggal bersama Rasulullah, tidak pernah aku mendapatkan pertengkaran Rasulullah baik perkataan ataupun tindakannya."

Panglima Perang yang Tak Tertandingi
Dalam sejarah dunia belum tercatat seorang pemimpin yang dapat menandingi kehebatan Rasulullah, selalu didengar tutur katanya, selalu dinanti kehadirannya, selalu dipandang kesejukan wajahnya. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam selalu didampingi oleh orang-orang yang sangat setia untuk menemani perjuangannya. Napoleon Bonaparte, George Washington, Adolf Hitler, Julius Caesar, dsb tidak dapat menandingi kehebatan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam sebagai seorang pemimpin yang benar-benar menjadi panutan. Banyak di dunia ini lahir pemimpin-pemimpin besar, namun tidak memiliki orang-orang yang setia, bahkan kebanyakan pemimpin besar dunia dikhianati oleh orang-orang terdekatnya. Rasulullah memimpin peperangan sebanyak 30 kali dan mengirim ekspedisi sebanyak 300 kali selama 10 tahun, sebuah rekor yang tidak tertandingi. Yang perlu diingat, bahwa saat Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam maju ke medan peperangan beliau pasti tetap tunduk pada aturan perang Islam seperti : tidak membunuh wanita dan anak-anak, tidak menebang pepohonan, tidak membunuh binatang, tidak menyiksa tawanan dan banyak aturan perang lainnya.

Orator yang Ulung
Tak pernah seorang sahabat pun merasa bosan dengan nasihat-nasihat Rasulullah. Bahkan, selalu dinanti-nantikan.
Pernah suatu hari menjelang wafat, beliau berkhotbah dari Ba'da Shubuh hingga menjelang maghrib, tiada terputus kecuali waktu-waktu shalat. Semua sahabt yang mendengarkan tak seorang pun merasa jenuh, mengantuk atau meninggalkan majelis. Yang ada semuanya mendengarkan secara khusyuk dan penuh dengan tetes air mata.

Pedagang yang Jujur
Sejak kecil Rasulullah telah dilatih untuk hidup dengan kerja keras hingga tumbuh menjadi seorang pedagang yang memebrikan kontribusi besar bagi pemilik modal. Sifat beliau yang jujur, amanah, cerdas dan penyampaian yang menarik sekarang dijadikan sebagai dasar-dasar bagi pembentukan jiwa entrepreneurshi/kewirausahaan.

Pemimpin yang Dikagumi
Urwah bin Mas'ud adalah seorang utusan Quraisy yang ering diutus ke Persia hingga Romawi untuk berdiplomasi dengan pemimpin-pemimpin mereka. Dia berkata, "Tidak pernah aku mendapti seirang pemimpin negara seperti Muhammad, yang ditaati, dipuji, diagungkan-agungkan oleh teman-temannya."
Bayangkan, kehadirannya selalui dinanti, ketika berjalan enak dipandang, ketika berkumpul tak seorang pun bosan, ketika berwudhu air bekasnya diperebutkan, bahkan para sahabat suka mencium keringatnya.

Teman Perjalanan yang Menyenangkan
Suatu hari Rasulullah bersama dua orang sahabatnya sedang bepergian. Ketika beristirahat, seorang dari sahabat beliau mengatakan, "Aku akan menyembelih seekor kambing." Kemudian sahabat yang lainnya menimpali, "Aku yang akan memasak daging kambingnya." Rasulullah, bukan mentang-mentang sebagai utusan Allah diam saja. Beliau pun berkata,"Aku akan mencari kayu bakar." Itulah karakter dari pribadi yang agung.

Pada kesempatan lain, Umar melihat Rasulullah tidur di atas tikar yang terbuat dari pelepah kurma sehingga pada tubuhnya membekas guratan-guratan. Maka ketika bangun, Umar berkata,"Ya Rasulullah. Sungguh penguasa Kisra dan Romawi tidur diatas bantal yang empuk dengan pelayan yang hilir mudik siap melayaninya. Sementara engkau itu lebih mulia dari mereka. Maka sekiranya engkau mau, kami akan mmeberikan seperti apa yang mereka dapatkan." Mendengar perkataan Umar, Rasulullah menjawab dengan lemah lembut, "Apakah engkau tidak ridho bahwa mereka mendapatkan dunia sementara kita mendapat akhirat wahai Ibnul Khatab?" Maka menangislah Umar dan bertambahlah cintanya pada beliau.

Beliau memang penguasa yang tak hanya menaklukan kekuasaan dunia, bukan wilayah rakay atau bala tentara saja namun hati beliau taklukkan. Mengajak orang menuju kebaikan tak cukup hanya bermodalkan ilmu, kecerdasan, kekuatan atau kekayaan, namun dengan hati yang selalu mencintainya.

Itulah sedikit contoh akan kemuliaan pribadi yang agung sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Ahzab:21, Sesungguhnya ada dalam diri Rasulullah itu teladan yang mulia.

Disampaikan oleh Ust. Khidir di Ma'had Kafila Jakarta

Mangkuk Kuno Cina Patahkan Teori Darwinisme


Kepingan-kepingan tembikar yang baru-baru ini ditemukan oleh para pakar ilmu purbakala di Gua Yuchanyan di Cina telah sekali lagi merobohkan pemikiran evolusionis mengenai sejarah. Menurut sebuah laporan di BBC News, usia pecahan-pecahan tersebut yang telah ditentukan dengan menggunakan 40 macam teknik Karbon-14 yang berbeda berkisar antara 17.500 dan 18.300 tahun. Keberadaan periuk setua itu merupakan sebuah kekalahan
penuh, dalam istilah evolusinis, karena mereka menyatakan bahwa manusia memulai kehidupan beradab dan menetap pada masa yang mereka sebut sebagai Zaman Batu.

Evolusonis menyatakan bahwa manusia pertama adalah makhluk setengah-kera yang bentuk tubuh dan kemampuan akalnya berkembang seiring dengan perjalanan waktu, bahwa mereka mendapatkan keterampilan baru, dan bahwa peradaban berevolusi disebabkan oleh hal tersebut.

Menurut pernyataan ini, yang didasarkan pada ketiadaan bukti ilmiah apa pun, nenek moyang purba kita yang diduga ada itu menjalani hidup sebagai binatang, lalu menjadi beradab hanya setelah mereka menjadi manusia, dan menunjukkan kemajuan budaya seiring dengan bertambah majunya kemampuan akal mereka.

Gambar-gambar khayalan dari apa yang disebut sebagai Manusia purba, dengan tubuh yang seluruhnya tertutupi bulu binatang, atau sedang membuat api sembari jongkok di bawah kulit binatang, tengah berjalan di sepanjang tepi wilayah perairan sembari memanggul hewan yang baru saja dibunuh, atau sedang berusaha berkomunikasi dengan sesamanya menggunakan gerakan isyarat dan bersungut-sungut, adalah gambar rekayasa yang dilandaskan pada pernyataan tidak ilmiah ini.

Contoh tembikar yang ditemukan di Gua Yuchanyan pada tahun 1995

amun, temuan-temuan purbakala yang dihasilkan hingga kini dari Zaman Batu, di mana evolusionis menyatakan bahwa “manusia waktu itu baru saja belajar berbicara”, menunjukkan bahwa manusia di masa itu sudah menjalani hidup berkeluarga, melakukan bedah otak dan memahami seni lukis dan musik.

Oleh karena serpihan periuk berusia sekitar 18.000 tahun yang ditemukan di Gua Yuchanyan di Cina juga menampakkan tanda-tanda kehidupan yang berperadaban, maka ini pun membantah “urutan zaman-zaman sejarah” karangan evolusonis. Kepingan-kepingan mangkuk ini, yang usianya ditetapkan antara 17.500 dan 18.300 tahun, adalah sisa-sisa peninggalan tembikar tertua yang pernah ditemukan. Menurut pernyataan evolusionis, manusia semestinya belum menjalani hidup menetap di masa yang disebut sebagai Zaman Batu, dan mestinya hidup di gua-gua sebagai pemburu purba yang menggunakan perkakas yang terbuat dari batu.

Namun temuan-temuan purbakala secara ilmiah membuktikan justru sebaliknya. Pecahan-pecahan barang yang terbuat dari tanah liat yang ditemukan di Gua Yuchanyan itu secara telak menyingkap ketidakabsahan pernyataan evolusonis, yang sejatinya tidak lebih dari khayalan.

Biji-bijian padi juga ditemukan di gua yang sama di tahun 2005. Secara keseluruhan, temuan-temuan ini menunjukkan bahwa manusia yang hidup 18.000 tahun lalu telah bertani dan hidup berperadaban sebagaimana yang dilakukan manusia masa kini.

Kemajuan dan temuan seperti ini yang terjadi di cabang-cabang ilmu pengetahuan seperti arkeologi dan antropologi menyingkapkan bahwa “gagasan evolusi budaya dan masyarakat manusia” adalah sesuatu yang palsu. Temuan yang dihasilkan selama penggalian-penggalian purbakala dengan jelas menampakkan bahwa sejarah ditafsirkan oleh para ilmuwan Darwinis berdasarkan prasangka ideologi materialis. Dongeng “Zaman Batu” tidaklah lebih dari upaya kalangan materialis dalam rangka menampilkan manusia sebagai sebuah makhluk hidup yang berevolusi dari binatang yang tidak berakal dan memaksakan dongeng yang mereka yakini ini pada ilmu pengetahuan.

Meneliti memori lebah

Lebah madu bisa mengingat wangi bunga yang mereka kunjungi dengan mengalokasikan jenis-jenis memori yang berbeda pada otak mereka yang kecil, dugaan para peneliti.

Profesor Lesley Rogers dari Universitas New England di Armidale, Australia dan Profesor Giorgio Vallortigara dari Universitas Trento di Itali melaporkan penemuan mereka minggu ini ke jurnal Plo ONE.

Para peneliti menunjukkan bahwa otak lebah dibagi atas dua bagian dengan fungsi yang berbeda yang dalam hal ini mengingatkan kita kepada otak manusia.

Dalam penelitian mereka, Rogers dan Vallortigara melatih lebah untuk mengenal rasa manis yang menyenangkan dengan aroma lemon dan rasa asin yang tidak menyenangkan dengan aroma vanila.

Setelah lebah dilatih untuk mengabaikan belalai mereka ketika mencium aroma lemon, namun tidak ketika mereka mencium aroma vanila, peneliti mencoba apa yang terjadi terhadap memori lebah ketika satu dari antena mereka tidak berfungsi.

Rogers dan Vallortigara menutup antena sebelah kiri atau kanan lebah dengan bahan yang dasarnya dari getah untuk menghentikan mendeteksi bau-bauan.

“Ketika kami meminta lebah untuk mengingat kembali dengan antena kiri yang tertutp, lebah bisa mengingat dengan baik memori dari dua aroma selama lebih kurang tiga jan, namun setelah itu tidak begitu baik,” kata Rogers. “Di lain sisi, jika kita menutup antena kanan dan mengetes lebah untuk meningat, awalnya tidak begitu baik, namun setelah enam jam lebah bisa mengingat kembali”.

Pola yang sama benar-benar terjadi ketika peneliti memberikan wangi-wangian pada bagian kiri atau bagian kanan lebah, tanpa menutup salah satu antenanya.


Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Hasil dari percobaan ini menduga bahwa antena kanan dan hubungan struktur otak membentuk basis untuk jangka pendek dan memori sementara, sementra antena kiri mendukung untuk memori jangka panjang.

“Jika dibandingkan dengan manusia dan hewan besar lainnya, otak lebah sangat simple”, kata Rogers. “Namun dengan otak yang simple lebah bisa melakukan hal-hal yang sangat komples. Lebah bisa belajar hal-hal yang hebat yang kita pikir tidak mungkin sebelumnya,” katanya. “ Jelas antena lebah sangat efisien untuk otak lebah”.

Sampai dengan pertengahan tahun1970, ilmuan mengira hanya manusia yang memiliki otak yang terbagi dua dengan aturan yang berbeda. Sejak itu, para peneliti menunjukkan bahwa semua hewan vertebrata memiliki dua struktur bagian pada otak mereka. Dan baru-baru ini, pada serangga, seperti lebah, juga memiliki otak yang memiliki devisi fungsi yang terbagi dua bagian.

“Di sini kemungkinan ada sesuatu yang sangat mendasar tentang perbedaan fungsi kontrol bagian kanan dan kiri dan penyebab perbedaan formasi memori,” kata Rogers.

Sumber: Stephen Pincock http://www.abc.net.au


Perkembangan Remaja

Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).

Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.

Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.

Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.

Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).

Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu: (1) perkembangan fisik, (2) perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial.



Aspek-aspek perkembangan pada masa remaja
Perkembangan fisik
Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).



Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.

Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).

Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.

Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).

Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah “ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain” (Papalia dan Olds, 2001). Elkind (dalam Beyth-Marom et al., 1993; dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel.

Personal fabel adalah "suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri mengenai diri kita sendiri, tetapi [cerita] itu tidaklah benar" . Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya. Papalia dan Olds (2001) dengan mengutip Elkind menjelaskan “personal fable” sebagai berikut :

“Personal fable adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh hukum alam. Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri [self-destructive] oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya. Misalnya seorang remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil [karena perilaku seksual yang dilakukannya], atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai meninggal dunia di jalan raya [saat mengendarai mobil], atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang [drugs] berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan. Remaja biasanya menganggap bahwa hal-hal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya”.

Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993). Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.

Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.



Perkembangan kepribadian dan sosial
Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).

Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.

Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).

Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).



Ciri-ciri Masa Remaja
Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.

1. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.
2. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
3. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
4. Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
5. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.



Tugas perkembangan remaja
Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain :

* memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan
* memperoleh peranan sosial
* menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif
* memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
* mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri
* memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan
* mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga
* membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup

Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).

Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.

Beberapa isu perkembangan remaja: seksualitas, harga diri, orientasi masa depan, konsumsi, keluarga.

Toggle

jQuery

Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates